Home Nasional Politik Pendidikan Ekonomi Olahraga Kesehatan Hiburan Hukum

Miris, Semaraknya Anak Sekolah Mulai Merokok di Setiap Tempat Jadi Ancaman Nyata Generasi Muda

Bangun
Redaktur • Jumat, 09 Okt 2026 - 20.20
Bagikan:
100 Dibaca
Miris, Semaraknya Anak Sekolah Mulai Merokok di Setiap Tempat Jadi Ancaman Nyata Generasi Muda

Tangerang, Jurnal-ankol.id; (4/08/2026]// – Ruang publik kini kian ramai oleh pemandangan miris anak-anak berseragam sekolah yang tanpa ragu mengonsumsi rokok maupun rokok elektrik di sembarang tempat. Indonesia menghadapi alarm keras darurat kesehatan setelah data terbaru mencatat sebanyak 2,03 juta anak remaja di dalam negeri kini aktif merokok. Indonesia menghadapi alarm keras darurat kesehatan setelah data terbaru mencatat sebanyak 2,03 juta anak remaja di dalam negeri kini aktif merokok.

Fenomena anak usia sekolah yang merokok kini semakin marak dan terlihat secara terbuka di berbagai ruang publik. Mulai dari area sekitar sekolah, taman kota, tempat umum, hingga warung-warung kecil pinggir jalan menjadi lokasi berkumpulnya para pelajar yang tanpa ragu mengonsumsi rokok konvensional maupun rokok elektrik (vape). Semaraknya aktivitas merokok di kalangan remaja ini memicu kekhawatiran besar dari berbagai pihak, mulai dari praktisi pendidikan hingga pemerhati anak.

Kekhawatiran ini didukung oleh fakta lapangan yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru dari Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) Foundation, sepanjang tahun 2025 tercatat ada sekitar 2,03 juta anak remaja di Indonesia yang aktif merokok. Secara agregat, akumulasi biaya yang dihabiskan oleh perokok anak ini menembus angka Rp 4,5 triliun per tahun hanya untuk membeli rokok. Data Kementerian Kesehatan RI melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) juga menegaskan bahwa prevalensi perokok usia 10–18 tahun masih bertengger tinggi di angka 7,4%, jauh melampaui target nasional yang dipatok sebesar 5,4%. Lebih parah lagi, kelompok usia 15–19 tahun merupakan kelompok dengan proporsi mulai merokok tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 56,5%.

Ketua Komunitas Pemerhati Anak Indonesia, Dr. Hendra Wijaya, M.Si., menyampaikan pandangannya mengenai krisis moral dan kesehatan ini:"Angka triliunan rupiah yang dibakar oleh anak sekolah ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan alaram krisis yang mengancam masa depan generasi Indonesia Emas 2045. Anak-anak dengan mudah membeli rokok batangan di warung-warung dekat sekolah tanpa pernah ditanyai kartu identitas. Jika kita terus membiarkan ekosistem yang permisif ini, kita sedang menabung ledakan penyakit tidak menular pada usia produktif mereka kelak."

Tingginya angka perokok pemula di kalangan pelajar dipicu oleh beberapa faktor krusial salah satunya yaitu, kemudahan akses pembelian rokok dengan mudah di warung pengecer sekitar pemukiman dan sekolah. Keinginan kuat untuk diakui dalam kelompak pergaulan sering kali memaksa remaja mencoba rokok agar tidak dikucilkan. Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, diperlukan langkah konkret dan sinergi dari seluruh lapisan masyarakat untuk memutus mata rantai perokok anak.

Adanya Regulasi, Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum harus tegas memberikan sanksi bagi toko atau warung yang terbukti menjual rokok kepada anak di bawah umur sesuai aturan PP No. 28 Tahun 2024.  Pihak sekolah bersama masyarakat wajib memastikan radius tertentu dari lingkungan sekolah bersih dari aktivitas merokok dan penjualan produk tembakau. Guru di sekolah dan orang tua di rumah harus aktif menjalin komunikasi terbuka untuk memberikan pemahaman mengenai dampak buruk rokok bagi kesehatan fisik dan perkembangan otak remaja  (adanya edukasi pencegahan)

Mengatasi maraknya anak sekolah yang merokok bukan hanya tugas satu instansi, melainkan tanggung jawab kolektif demi menyelamatkan kualitas kesehatan dan masa depan generasi penerus bangsa. Mari perketat pengawasan di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar kita demi menyelamatkan masa depan anak-anak kita. kami mengajak para pemangku kepentingan, pendidik, dan orang tua untuk memperketat pengawasan preventif demi menjaga kualitas sumber daya manusia masa depan. Penulis adalah ketua Gerakan Anti Narkoba ( GIRAB )

*** APB, jurnal-ankol.id ***

Penilaian Pembaca
4.3
6 pembaca memberi penilaian

Bagaimana menurut Anda?
Terima kasih atas penilaian Anda
Lihat Semua Berita
Ad Space Available Pasang iklan Anda di sini
Ad Space Available Pasang iklan Anda di sini
Ad Space Available Pasang iklan Anda di sini
Berhasil
Rating berhasil dikirim.